Sejarah Kerajaan Demak Lengkap : Pendiri, Raja-Raja, Kehidupan dan Peninggalannya

Sejarah Kerajaan Demak Lengkap : Pendiri, Awal Pendirian, Masa Pemerintahan, Kehidupan, dan Peningalan-Peniggalannya. Kerajaan Demak adalah kerajaan islam pertama di Pulau Jawa, Kerajaan Demak identik dengan walisongo. Awalnya Kerajaan Demak merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit, namun ketika Kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan, Kerajaan Demak memisahkan diri dari Kerajaan Majapahit dan mendirikan Kerajaan Sendiri, Kerajaan Demak menjadi salah satu kerajaan paling berpengaruh di Nusantara dan menjadi Kerajaan islam terbesar di Pulau Jawa.

Kerajaan Demak
Kerajaan Demak Via:commons.wikimedia.org


Faktor yang membuat Kerajaan Demak menjadi salah satu kerajaan yang berpengaruh di Nusantara adalah karena letaknya yang sangat strategis sehingga menjadi jalur perdagangan, letak Kerajaan Demak terletak di bergota dari kerajaan Mataram Kuno dan Jepara.

 

Awal Berdiri Kerajaan Demak

Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah yang masih keturunan dari Kerajaan Majapahit dengan seorang putri asal Campa. Raden sebagai pendiri juga menjadi raja pertama dari Kerajaan Demak.

 

Kekuasaan Kerajaan Demak

Sebagai kerajaan islam pertama di Indonesia dan memiliki letak yang strategis membuat Kerajaan Demak memiliki daerah cakupan kekuasaan yang luas. Daerah kekuasaan  Kerajaan Demak meliputi  Banjarmasin(Kalimantan), Palembang (Sumatera) , Maluku serta bagian utara di Pulau Jawa.

 

Kehidupan Politik Kerajaan Demak

Kedidupan Politik Kerajaan Demak
Kedidupan Politik Kerajaan Demak Via:commons.wikimedia.org

 

Raja pertama Kerajaan Demak adalah Raden Patah dan dia juga merupakan pendiri dari  Kerajaan Demak yang  bergelar (Senapati Jumbung Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama). Masa kekuasaan Raden Patah sekitar 40 tahun, di tahun 1507 Raden Patah turun dari singgasananya dan digantikan oleh salah seorang putranya yaitu Pati Unus. Sebelum menjadi raja Pati Unus sudah memiliki pengalaman memimpin armada laut yang menyerang penjajah Portugis di Selat Malaka.

Namun usaha dari Pati Unus masih mengalami kegagalan, tapi dengan keberaniannya Pati Unus mendapatkan gelar Pantai Sabrang Lor.

Pemerintahan Pati Unus berlangsung sebentar yaitu sekitar 3 tahun, hal ini dikarenakan pada tahu 1921 Pati Unus meninggal dunia, kemudian tahta Kerajaan Demak diambil alih oleh adiknya Pangeran Trenggana. Saat di pimpin oleh Pangeraan Trenggana Keraajaan Demak mencapai puncak kejayaannya.

 

Masa Pemerintahan Raja-Raja Demak

1. Rade Patah (1478-1518)
2. Pati Unus (1518-1521)
3. Trenggana (1521-1546)
4. Sunan Prawoto (1546-1549)

 

Ulasan Kerajaan Demak

Setelah berkuasa Raja Trenggana mulai mengusir dan menahan pengaruh dari Portugis, saat itu Portugis hendak menjalin kerjasama dengan kerajaan Pajajaran (Sunda).

Saat itu Raja Samiam raja yang berkuasa di Kerajaan Sunda sudah memberikan ijin pada Portugis untuk membangun kantor dagangnya di Sunda Kelapa. Oleh karenanya, Sultan Trenggana akhirnya mengutus Fatahillah (Faletehan) untuk mencegah agar Portugis tidak dapat menguasai wilayah Sunda Kelapa dan Banten.

Sunda Kelapa adalah bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda. Ketika itu, Portugis mendirikan sebuah benteng  di Sunda Kelapa. Namun, Kerajaan Demak tidak menyukai dengan adanya keberadaan orang-orang penjajah Portugis.

Dengan jalan peperangan akhirnya, Fatahillah (Faletehan)  berhasil dalam mengalahkan Portugis. Wilayah Banten dan Cirebon akhirnya dapat dikuasai oleh Fatahillah bersama pasukannya.

Untuk mengenang perebutan Sunda Kelapa dari Portugis, lalu pada tanggal 22 Juni 1527, Sunda Kelapa berubah nama menjadi Jayakarta. Hal ini menjadikan Trenggana menjadi salah satu raja terkuat di Jawa. Raden Fathillah dan pasukannya tidak berhenti disini saja mereka juga terusk menaklukan dareha-daerah yang berada di timur, dan merekapun berhasil menaklukan beberapa wilayah di timur Pulau Jawa.

Daerah-daerah yang berada di Timur yang masih berbentuk kerajaan Hindu dan
Buddha yang terletak di Jawa Timur satu persatu mulai dikalahkan, antaranya: Kerajaan Wirosari dan Kerajaan Tuban pada tahun 1528,  Wilayah Madiun pada tahun 1529, Lamongan, Blitar, Pasuruan dan Wirosobo pada tahun 1541 sampai dengan 1542. Hal ini menjadikan Kerjaan Demak menjadi semakin berkuasa dan kuat.

Madura, Mataram dan Pajang akhirnya dapat jatuh kedalam kekuasaan Kerajaan Demak. Untuk memperkuat kekuasaan serta politik dari Kerjaan Demak. Sultan Trenggana menikahkan putrinya dengan Pangeran Langgar seorang Bupati yang berasal dari Madura. Setelah itu Putra Bupati Pengging yang bernama Tingkir  diambil sebagai  menantu Sultan Trenggana dan ia diangkat menjadi Bupati di daerah Pajang.

Pada tahun 1546. Sultan Trenggana meninggal dunia ketika berada di medan pertempuran ketika itu, Ia melancarkan penyerangan di  wilayah Pasuruan. Setelah Sultan Trenggana wafat, Kerajaan Demak mengalami pertikaian internal dalam memperebutkan tahta kerajaan  di kalangan keluarga kerajaan. Penerus dari Sultan Trenggana harusnya Pangeran Mukmin yang merupakan putra pertama dari Sultan Trenggana. Namun kemudian Pangeran Mukmin (Parwoto) terbunuh di tangan Bupati Jipang yaitu Arya Penangsang.

Karena perebutan tahkta kerajaan yang tidak adil, keluarga Kerajaan Demak tidak menerima Arya Penangsang sebgai raja, sehingga ia digulirkan dengan dipimpin oleh Jaka Tingkir, dan kemudian kekuasaan Kerajaan Demak dipindahkan ke wilayah Pajang

 

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Demak

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Demak
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Demak Via: commons.wikimedia.org

 

Sebagai kerajaan yang terletak strategis, Kerajaan Demak mengalami perkembangan yang tepat hal ini juga mempengaruhi kehidupan ekonomi dari masyarakatnya. Demak memegang peran penting jalur perdangan di Nusantara,

Pelabuhan demak menjadi temat singgah untuk ekspor barang seperti : madu, beras, lilin dan rempah-rempah.

Komoditas ekspor tersebut kemudian di ekspor ke wilayah Malaka, dengan menempuh jalur di Jepara, berkat hal inilah Kerajaan Demak mendapatkan pajak dan upeti dari kapal yang singgah, hal ini menjadikan Kerjaan Demak memiliki ekonomi yang kuat dan sejahtera.

Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Demak

Wali Songo dan Kerajaan Demak Via: wordpress.com

Untuk hukum di Kerajaan Demak berlandaskan ajaran islam, hal ini membuat masyarakatnya hidup dengan teratur dan damai, Selain itu Kerajaan Demak di kenal dengan para wali songonya sehingga kehidupan sosial dan budaya dari masyarakat demak sudah sangat teratur dan baik.

Sisa hasil peninggalan sosial budaya dari Kerajaan Demak sampai saat in masih utuh terjaga seperti : Masjid Agung Demak, yang masih berdiri kokoh sampai saat ini dan menjadi saksi bisu atas salah satu Kerajaan Islam terbesar di Indoensia.

Untuk hasil peradaban budaya yang masih ada saat ini yaitu seperti ornamen kaligrafi, wayang kulit, lagu-lagu dan syair islami yang masih ada sampai sekarang. Peryaan Sekaten yang di kenalkan oleh sunan kalijaga pun masih di lakasanakan oleh beberapa masayarakat di wilayah Jawa.

Peninggalan Kerajaan Demak :

Peninggalan Kerajaan Demak
Peninggalan Kerajaan Demak Via :commons.wikimedia.org

1. Masjid Agung Demak
2.  Perayaan Sekaten
3. Hikayat dan Syair Jawa
4. Saka Tatal
5. bedug dan kenthongan
6. Piring Campa
7. Pintu Bledeg atau Pintu Petir
8. Dampar Kencana


Baca Juga :

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel