Sejarah Kerajaan Singasari Lengkap, Awal Pendirian, Kehidupan, Raja-Raja, Peninggalan

July 19, 2018

Sejarah Kerajaan Singasari  

Peta Kerajaan Singasari
Peta Kerajaan Singasari Via : commons.wikimedia.org

 

Singasari sering di lafalkan dengan Singosari awalnya hanyalah sebuah bagian dari Kerajaan Kediri yang terletak di Jawa Timur. Letak dari Kerajaan Singasari terletak di wilayah Kutaraja, Tumampel, Jawa Timur. Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok, Menurut para ahli sejarah Ken Arok merupakan  anak dari seorang pejabat tinggi di Kediri.

Awal Berdirinya  Kerajaan Singasari

Pada awalnya  Kerajaan Singasari hanyalah sebuah kadipaten dibawah Kerajaan Kediri. Pada waktu itu yang menjabata sebagai petinggi wilayah tersebut disebut dengan Akuwu atau masa sekarang sering disebut dengan Camat, ketika itu yang menjabat sebagai Akuwu adalah Tunggul Ametung. Tunggul Ametung lengser dari kekuasaannya saat itu karena di tipu dan dibunuh oelh orang kepercayaannnya sendiri Ken Arok. Setelah kematian dari Tunggul Ametung, Ken Arok mempersunting istri dari Tunggul Ametung dan menjadi pejabat baru di wilayah Tumampel.

Kemudian di tahun 1254 terjadi sebuah pertikaian Kerajaan Kediri (Raja Kertajaya) dengan para Brahmana, lalu Brahmana-Brahmana tersebut bersatu dan mengangkat Ken Arok menjadi seorang raja di Tumampel dan mendirikan Kerajaan Singasari, Ken Arok mendapatkan gelar Sri Rajasa Sang AmuwarBhumi,  kemudian peperangan tidak bisa di hindari dan Ken Arok memenangkan peperangan tersebut yang berlokasi di Desa Ganter.


Raja-Raja Yang Pernah Memerintah Kerajaan Singasari

Raja-Raja Singasari
Raja-Raja Singasari Via:pexels.com

 

1. Ken Arok Tahun 1222-1227 Masehi
Ken Arok merupakan Raja Pertama, sekaligus pendiri dinasti dari Kerajaan Singasari, Ken Arok memiliki gelar raja : Sri Rajasa Sang AmuwarBhumi, lalu dengan munculnya Ken Arok hal ini menjadi titik awal dengan munculnya dinasti baru yaitu Dinasti Rajasa atau Rajawangsa. Ken Arok memerintah Kerajaan Singasari tidak berlangsung lama hanya 5 tahun (Tahun 1222-1227 Masehi), hal ini disebabkan karena Ken Arok di bunuh oleh anak tirinya sendiri Anuspati, yang merupakan keturunan dari Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Kemudian Ken Arok dimakamkan di bangunan Siwa Budha berlokasi di Kegenengan.

2. Anuspati Tahun 1227-1248 Masehi
Anuspati berhasil menggeser kekuasaan Ken Arok dengan membunuhnya, kemudian ia menggantikan posisi Ken Arok menjadi Raja Singasari di tahun 1227 Masehi, saat ia berkuasa tidak banyak hal yang ia lakukan, hal ini disebabkan karena ia terlena dengan kekuasaannya dan hobinya yaitu sambung ayam (adu ayam). Berita perbuatan kejinya membunuh Ken Arok terdengar sampai telinga Tohjoyo yang merupakan anak kandung dari Ken Arok dan Ken Umang. Tohjoyo yang mengetahui bahwa Anuspati suka adu ayam, kemudian dia mengundang Anuspati untuk melakukan sambung ayam di kediamannya, dan saat Anuspati lengah, Tohjoyo membunuh Anuspati dengan menusuknya dari belakang, dan Anuspati pun meninggal di tempat, keris yang digunakan untuk membunuh Anuspati juga menggunakan keris kutikan Mpu Gadring, yang telah menumpahkan banyak darah.

3. Tohjoyo Tahun 1248 Masehi
Masa kekuasaan Tohjoyo pun hanya sebentar, tidak sampai satu tahun, hal ini di karenakan ketika ia menjadi Rasa Singasari anak dari Anuspati yaitu Ranggawuni yang mengetahui ayahnya di bunuh oleh Tohjoyo, mencoba membalaskan dendam ayahnya , dengan mendapatkan bantuan dari Mahesa Cempaka dan bala tentaranya akhirnya Ranggawuni dapat membunuh Tohjoyo di tahun 1248.

4. Ranggawuni Tahun 1248 – 1268 Masehi
Setelah berhasil menghabisi Tohjoyo, Ranggawuni pun menaiki tahta Kerajaan Singasari, Ranggawuni bergelar Sri Jaya Wisnuwardana. Setelah itu ia menjadikan Mahesa Cempaka anak dari Mahesa Wongateleng sebagai Ratu Angabhaya bergelar Narasinghamurti, Ketika Ranggawuni menjabat sebagai Raja Singasari rakyat mengalamai masa damai dan makmur, kemudian di tahun 1254 Masehi, Ranggawuni mengangkat anaknya Kertanegara sebagai raja muda atau Yuwaraja, hal ini di lakukan untuk mempersiapkan Kertanegara untuk menjadi Raja Besar pengganti dirinya. Lalu di tahun 1268 Masehi, Raja Ranggawuni (Wisnuwardana) menutup usia dan dimakamkan di Candi Jago sebagai Budha Amagopasa berlokasi di Candi Waleri sebagai seorang siwa.


5. Kertanegara  Tahun 1268 – 1292 Masehi. (Masa Kejayaan sekaligus Masa Kemunduruan)

Kertanegara adalah raja terbesar sekaligus raja terakhir dari Kerajaan Singasari, dia menjadi raja terbesar karena memiliki visa dan cita-cita untuk menyatukan seluruh Nusantara di bawah Kerajaan Singasari. Ia di angkat menjadi raja pada tahun 1268 Masehi, setelah Ayahnya meninggal, Kertanegara begelar Sri Madahadiraja Sri Kertanegara, saat ia memerintah ia dibantu oleh 3 mentri yang disebut MahaMentri yaitu : Mahamentri I Hino, Maha Mentri I Halu dan Maha Mentri I Sirikan, selain itu untuk dapat mewujudkan mimpinya ia mengantikan beberapa pejabat yang kolot dan korup seperti Patih Raganata digantikan dengan Patih Aragani, setelah ia berhasil menguasai wilayah jawa, kemudian ia mencoba menjelajah dan meperluas daerahnya ke Melayu, penjelajahan ini disebut dengan ekspedisi Pamalyu pada tahun 1275, dipimpin oeh Adityawarman, dan berhasil menjajah dan menguasai Kerajaan Melayu, dengan ini kekuasaan Singasari semakin luas, Hal ini di indikasikan dengan berbagai pengiriman arca seperti Arca Amoghapasa ke wilayah Dharmasraya atas wewenang Raja Kertanegara.

Kekuasaan Kertanegara semakain luas hal ini di tandai dengan berhasil dikuasainya, wilayah : Pahang, Balim Sunda, Kalimantan Barat. Maluku, Raja Kertanegara juga menjalin hubungan aliansi dengan Kerajaan Campa., hal ini dimaksudkan untuk mencegah serangan dari Raja Mongol yang ingin menguasai Nusantara, Kertanegara adalah salah satu raja yang berpendirian dengan menolak tunduk pada raja mongol, hal ini di tunjukan dengan dia melukai untusan Raja Mongol yang bernama Meng-Chi. Tindakan ini membuat Raja Mongol (Kubilai Khan) sangat marah dan ia berniat untuk mengirim pasukan besar ke pulau jawa.  Saat itu juga pihak yang tidak menyukai Raja Kertanegara melihat peluang : yaitu Jayakatwang (Kerajaan Kediri) menggunakan momen ini untuk menyerang Kerajaan Singasari, serangan di lancarkan dari dua arah yaitu utara (Pasukan Pancingan) dan dari selatan yang merupakan pasukan utama.


Pasukan pancingan dari arah utara di komandani oleh Jara Guyang, kemudian Raja Kertanegara mengutus Raden Wijaya dan Ardharaja untuk melawan bala tentara Jaran Guyang. Jaran Guyang beserta pasukannya pun berhasil di kalahkan, Namun pasukan utama yang di pimpin oleh Patih Mahesa Mudharang berhasil masuk ke istana dan menemukan Kertanegara yang sedang berpesta pora, serangan tersebut berhasil menghabisi Para Pembesar Istana Singasari,  Ardharaja yang merupakan menantu dari Kertanegara berkhianat dan memihak ayahnya  (Jayakatwang). Kertanegara berhasil melarikan diri ke Madura ia berniat untuk meminta bala bantuan kepada Ari Wijaya,  Atasa bantuan Ari Wijaya Kertanegara mendapatkan pengampunan. Raden Wijaya di beri hadiah sebidang tanah, bernama Tahan Tarik oleh Jayakatwang untuk ditinggali,  Setelah Kertanegara gugur, ini menjadi akhir dari dinasti Kerajaan Singasari, kemudian Kerajaan Singasari berhasil dikuasai.  Kertanegara di makamkan sbegai Siwa-Budha dengan gelar Bairawa di Candi Singasari, Arca kehormatanya di kenal sebagai Joko Dolog, yang sekarang berlokasi di Taman Simpang, Surabaya, Jawa Timur.


Kehidupan Sosial dan Ekonomi  Kerajaan Singasari   

Candi Jago Singasari
Candi Jago Singasari

 

Masa Kedupan dari Masyarakat Singsari terbilang naik turun, hal ini dikarenakan karena pergantian pemerintahan dan pertikaian internal,

Ketika Ken Arok menjadi raja taraf hidup masyarakat terbilang membaik, karena saat Ken Arok menjadi raja ia sangat memperhatikan masyarakatnya, karena sebelum menjadi raja ia hanyalah masyarakat biasa.

Ketika Anuspati menjadi Raja, kehidupan masyarakatnya menjadi terbengkalai, ia tida memperhatikan taraf hidup rakyatnya, karena ia di asyikan dengan hobinya yaitu sambung ayam, sampai ia lupa dengan rakyatnya.

Lalu pada masa Raja Tohjoyo, belum terlihat perbedaan pada taraf hidup masyarakatnya hal ini dikarenakan ia menjabat sebagai raja kurang dari satu tahun sehingga perubahan belum terlihat.

Pada masa Ranggawuni  (Wisnuwhardana) kehidupan sosial dan ekonomi mulai ditata rapi dan ekonomi masyarakatnya mulai membaik dan sejahtera.

Saat Raja Kertanegara memerintah banyak hal yang ia perbaiki untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakatnya, dan pada saat itu juga Kerajaan Singasari mengalami masa kejayaan serta kemakmuran dengan berbagai politik yang mensejahterakan rakyatnya.

Kehidupan Politik Kerajaan Singasari 

Kehidupan Politik Kerajaan Singasari
Kehidupan Politik Kerajaan Singasari Via : commons.wikimedia.org

 

Kehidupan Politik terbilang cukup baik hal ini terlihat dari awal berdirinya Kerajaan Singasari yaitu ketika Ken Arok berhasil menggandeng Brahmana untuk menobatkannya menjadi Raja Singasri,
Jalinan hubungan politik pun terus di lakukan sampai masa pemerintahan Raja Kertanegara dengan menjalin Aliasni dengan Raja Campa,  beberapa politik yang dijalanka Raja Kertanegara :

Politik Internal :

1. Memperkuat Persenjataan
2. Melatih Angkatan Perang
3. Menggantikan pergantian pejabat pemerintah yang kolot
4. Menjalin hubungan dengan lawan politiknya dengan menjadikan  Putra Jayakatwang menjadi anak mantunya.

Politik Eksternal :
1. Melakukan berbagai ekspansi dan ekspedisi seperti Ekspedisi Pamalyu untuk memperluas kekuasaan.
2. Menguasai wilayah Bali
3. Menguasai wilayah Kalimantan
4. Mengusai wilayah Maluku
5. Menguasai sebagian besar Pulau Jawa
6. Menjalin hubungan  aliansi dengan Kerajaan yang berada di luar Nusantara seperti Kerajaan Campa.

Kehidupan Budaya Kerajaan Singasari :

Arca Amogapasha Kerajaan Singasari
Arca Amogapasha Kerajaan Singasari

 

Sebagai kerajaan yang bercorah Hindu-Budha,  Kerajaan Singasari memiliki berbagai peninggalan yang bernilai seni tinggi seperti Candi, Arca, Kitab, dan Senjata Keris.

Baca Juga :

Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Singasari :

Candi Kidal Peninggalan Singasari
Candi Kidal Peninggalan Singasari

 

1. Candi Singasari

2. Candi Jago

3. Candi Sumberawan

4. Arca Dwarapala

5. Candi Jawi

6. Prasasti Wurare

7. Candi Kidal

8. Prasasti Manjusri

9. Arca Prajnaparamita

10. Arca Amogapasha



Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda