√ Dasar Hukum dan UU Wakaf Di Indonesia

September 04, 2019

Dasar Hukum dan UU Wakaf Di Indonesia

Jooinfoo -  kali ini akan berbagi informasi dan wawasan islami mengenai Dasar Hukum-hukumdan undang-undang wakaf di Negara Indonesia.


http://www.apanesi.net/2017/07/dasar-hukum-dan-uu-wakaf-di-indonesia.html
Wakaf

Dasar Hukum Wakaf di Indonesia

1. UU Nomor 41 tahun 2004 (27 Oktober) tentang Wakaf

BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan :
1. Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian
harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu
sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum
menurut syariah.
2. Wakif adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya.
3. Ikrar Wakaf adalah pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan dan/atau
tulisan kepada Nazhir untuk mewakafkan harta benda miliknya.
4. Nazhir adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari Wakif untuk dikelola dan
dikembangkan sesuai dengan peruntukannya.
5. Harta Benda Wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat
jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan oleh
Wakif.
6. Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf, selanjutnya disingkat PPAIW, adalah pejabat
berwenang yang ditetapkan oleh Menteri untuk membuat akta ikrar wakaf.
7. Badan Wakaf Indonesia adalah lembaga independen untuk mengembangkan perwakafan
di Indonesia.
8. Pemerintah adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas
Presiden beserta para menteri.
9. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang agama.

BAB II DASAR-DASAR WAKAF
Bagian Pertama
Umum
Pasal 2
Wakaf sah apabila dilaksanakan menurut syariah.
Pasal 3
Wakaf yang telah diikrarkan tidak dapat dibatalkan.

Bagian Kedua
Tujuan dan Fungsi Wakaf
Pasal 4
Wakaf bertujuan memanfaatkan harta benda wakaf sesuai dengan fungsinya.
Pasal 5
Wakaf berfungsi mewujudkanpotensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk
kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum.
Bagian Ketiga
Unsur Wakaf
Pasal 6
Wakaf dilaksanakan dengan memenuhi unsur wakaf sebagai berikut :
a. Wakif
b. Nazhir
c. Harta Benda Wakaf;
d. Ikrar Wakaf
e. peruntukan harta benda waka
f. jangka waktu wakaf
Bagian Keempat
Wakif
Pasal 7
Wakif meliputi:
a. perseorangan
b. organisasi
c. badan hukum
Pasal 8
(1) Wakif perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi persyaratan :
a. dewasa;
b. berakal sehat;
c. tidak terhalang melakukan perbuatan hukum; dan
d. pemilik sah harta benda wakaf.
(2) Wakif organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b hanya dapat melakukan
wakaf apabila memenuhi ketentuan organisasi untuk mewakafkan harta benda wakaf milik
organisasi sesuai dengan anggaran dasar organisasi yang bersangkutan.

(3) Wakif badan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf c hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi ketentuan badan hukum untuk mewakafkan harta benda wakaf milik badan hukum sesuai dengan anggaran dasar badan hukum yang bersangkutan.
Bagian Kelima
Nazhir
Pasal 9
Nazhir meliputi:
a. perseorangan
b. Organisasi, atau
c. badan hukum
Pasal 10
(1) Perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a hanya dapat menjadi Nazhir
apabila memenuhi persyaratan :
a. warga negara Indonesia;
b. beragama Islam;
c. dewasa;
d. amanah;
e. mampu secara jasmani dan rohani; dan
f. tidak terhalang melakukan perbuatan hukum.
(2) Organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b hanya dapat menjadi Nazhir
apabila memenuhi persyaratan:
a. pengurus organisasi yang bersangkutan memenuhi persyaratan nazhir perseorangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1); dan
b. organisasi yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan, dan/atau
keagamaan Islam.
(3) Badan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c hanya dapat menjadi Nazhir
apabila memenuhi persyaratan :
a. pengurus badan hukum yang bersangkutan memenuhi persyaratan nazhir perseorangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1); dan
b. badan hukum Indonesia yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku; dan
c. badan hukum yang bersangkutan bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan, dan/atau keagamaan Islam.
Pasal 11
Nazhir mempunyai tugas :
a. melakukan pengadministrasian harta benda wakaf
b. mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan tujuan, fungsi, dan
peruntukannya
c. mengawasi dan melindungi harta benda wakaf
d. melaporkan pelaksanaan tugas kepada Badan Wakaf Indonesia.
Pasal 12
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Nazhir dapat menerima
imbalan dari hasil bersih atas pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf yang
besarnya tidak melebihi 10% (sepuluh persen).
Pasal 13
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Nazhir memperoleh
pembinaan dari Menteri dan Badan Wakaf Indonesia.

Pasal 14
(1) Dalam rangka pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, Nazhir harus terdaftar
pada Menteri dan Badan Wakaf Indonesia.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Nazhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, Pasal 10,
Pasal 11, Pasal 12, dan Pasal 13, diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Bagian Keenam
Harta Benda Wakaf
Pasal 15
Harta benda wakaf hanya dapat diwakafkan apabila dimiliki dan dikuasai oleh Wakif secara
sah.
Pasal 16
(1) Harta benda wakaf terdiri dari :
a. benda tidak bergerak; dan
b. benda bergerak.
(2) Benda tidak bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi :
a. hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
baik yang sudah maupun yang belum terdaftar;
b. bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah sebagaimana dimaksud pada
huruf a;
c. tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah;
d. hak milik atas satuan rumah susun sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku;
e. benda tidak bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundangundangan yang berlaku.
(3) Benda bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah harta benda yang
tidak bisa habis karena dikonsumsi, meliputi :
a. uang;
b. logam mulia;
c. surat berharga;
d. kendaraan;
e. hak atas kekayaan intelektual;
f. hak sewa; dan
g. benda bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundangundangan yang berlaku.
Bagian Ketujuh
Ikrar Wakaf
Pasal 17
(1) Ikrar wakaf dilaksanakan oleh Wakif kepada Nadzir di hadapan PPAIW dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi.
(2) Ikrar Wakaf sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan secara lisan dan/atau tulisan
serta dituangkan dalam akta ikrar wakaf oleh PPAIW.
Pasal 18
Dalam hal Wakif tidak dapat menyatakan ikrar wakaf secara lisan atau tidak dapat hadir dalam pelaksanaan ikrar wakaf karena alasan yang dibenarkan oleh hukum, Wakif dapat menunjuk kuasanya dengan surat kuasa yang diperkuat oleh 2 (dua) orang saksi.
Pasal 19
Untuk dapat melaksanakan ikrar wakaf, wakif atau kuasanya menyerahkan surat dan/atau
bukti kepemilikan atas harta benda wakaf kepada PPAIW.
Pasal 20
Saksi dalam ikrar wakaf harus memenuhi persyaratan:
a. dewasa;
b. beragama Islam;
c. berakal sehat;
d. tidak terhalang melakukan perbuatan hukum.
Pasal 21
(1) Ikrar wakaf dituangkan dalam akta ikrar wakaf.
(2) Akta ikrar wakaf sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat :
a. nama dan identitas Wakif;
b. nama dan identitas Nazhir;
c. data dan keterangan harta benda wakaf;
d. peruntukan harta benda wakaf;
e. jangka waktu wakaf.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai akta ikrar wakaf sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Bagian Kedelapan
Peruntukan Harta Benda Wakaf
Pasal 22
Dalam rangka mencapai tujuan dan fungsi wakaf, harta benda wakaf hanya dapat
diperuntukan bagi:
a. sarana dan kegiatan ibadah;
b. sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan;
c. bantuan kepada fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, bea siswa;
d. kemajuan dan peningkatan ekonomi umat; dan/atau
e. kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah dan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 23
(1) Penetapan peruntukan harta benda wakaf sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dilakukan
oleh Wakif pada pelaksanaan ikrar wakaf.
(2) Dalam hal Wakif tidak menetapkan peruntukan harta benda wakaf, Nazhir dapat
menetapkan peruntukan harta benda wakaf yang dilakukan sesuai dengan tujuan dan
fungsi wakaf.
Bagian Kesembilan
Wakaf dengan Wasiat
Pasal 24
Wakaf dengan wasiat baik secara lisan maupun secara tertulis hanya dapat dilakukan apabila
disaksikan oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi yang memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 20.
Pasal 25
Harta benda wakaf yang diwakafkan dengan wasiat paling banyak 1/3 (satu pertiga) dari
jumlah harta warisan setelah dikurangi dengan utang pewasiat, kecuali dengan persetujuan
seluruh ahli waris.
Pasal 26
(1) Wakaf dengan wasiat dilaksanakan oleh penerima wasiat setelah pewasiat yang
bersangkutan meninggal dunia.
(2) Penerima wasiat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertindak sebagai kuasa wakif.
(3) Wakaf dengan wasiat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan
sesuai dengan tata cara perwakafan yang diatur dalam Undang-Undang ini.
Pasal 27
Dalam hal wakaf dengan wasiat tidak dilaksanakan oleh penerima wasiat, atas permintaan
pihak yang berkepentingan, pengadilan dapat memerintahkan penerima wasiat yang
bersangkutan untuk melaksanakan wasiat
Bagian Kesepuluh
Wakaf Benda Bergerak Berupa Uang
Pasal 28
Wakif dapat mewakafkan benda bergerak berupa uang melalui lembaga keuangan syariah
yang ditunjuk oleh Menteri.
Pasal 29
(1) Wakaf benda bergerak berupa uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dilaksanakan
oleh Wakif dengan pernyataan kehendakWakif yang dilakukan secara tertulis.
(2) Wakaf benda bergerak berupa uang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan
dalam bentuk sertifikat wakaf uang.
(3) Sertifikat wakaf uang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterbitkan dan disampaikan
oleh lembaga keuangan syariah kepada Wakif dan Nazhir sebagai bukti penyerahan harta
benda wakaf.
Pasal 30
Lembaga keuangan syariah atas nama Nazhir mendaftarkan harta benda wakaf berupa uang
kepada Menteri selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak diterbitkannya Sertifikat Wakaf
Uang.
Pasal 31
Ketentuan lebih lanjut mengenai wakaf benda bergerak berupa uang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 28, Pasal 29, dan Pasal 30 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB III PENDAFTARAN DAN PENGUMUMAN HARTA BENDA WAKAF

Pasal 32
PPAIW atas nama Nazhir mendaftarkan harta benda wakaf kepada Instansi yang berwenang
paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak akta ikrar wakaf ditandatangani.
Pasal 33
Dalam pendaftaran harta benda wakaf sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32, PPAIW
menyerahkan:
a. salinan akta ikrar wakaf;
b. surat-surat dan/atau bukti-bukti kepemilikan dan dokumen terkait lainnya.
Pasal 34
Instansi yang berwenang menerbitkan bukti pendaftaran harta benda wakaf.
Pasal 35
Bukti pendaftaran harta benda wakaf sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 disampaikan oleh PPAIW kepada Nazhir.

Pasal 36
Dalam hal harta benda wakaf ditukar atau diubah peruntukannya, Nazhir melalui PPAIW
mendaftarkan kembali kepada Instansi yang berwenang dan Badan Wakaf Indonesia atas harta benda wakaf yang ditukar atau diubah peruntukannya itu sesuai dengan ketentuan yang
berlaku dalam tata cara pendaftaran harta benda wakaf.
Pasal 37
Menteri dan Badan Wakaf Indonesia mengadministrasikan pendaftaran harta benda wakaf.
Pasal 38
Menteri dan Badan Wakaf Indonesia mengumumkan kepada masyarakat harta benda wakaf
yang telah terdaftar.
Pasal 39
Ketentuan lebih lanjut mengenai PPAIW, tata cara pendaftaran dan pengumuman harta benda
wakaf diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB IV PERUBAHAN STATUS HARTA BENDA WAKAF
Pasal 40
Harta benda wakaf yang sudah diwakafkan dilarang:
1. dijadikan jaminan;
2. disita;
3. dihibahkan;
4. dijual;
5. diwariskan;
6. ditukar; atau
7. dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya.

Pasal 41
(1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf f dikecualikan apabila harta benda
wakaf yang telah diwakafkan digunakan untuk kepentingan umum sesuai dengan rencana
umum tata ruang (RUTR) berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan tidak bertentangan dengan syariah.
(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan setelah
memperoleh izin tertulis dari Menteri atas persetujuan Badan Wakaf Indonesia.
(3) Harta benda wakaf yang sudah diubah statusnya karena ketentuan pengecualian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib ditukar dengan harta benda yang manfaat dan
nilai tukar sekurang-kurangnya sama dengan harta benda wakaf semula.
(4) Ketentuan mengenai perubahan status harta benda wakaf sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
BAB V PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN HARTA BENDA WAKAF
Pasal 42
Nazhir wajib mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan tujuan, fungsi,dan peruntukannya.
Pasal 43
(1) Pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf oleh Nazhir sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 42 dilaksanakan sesuai dengan prinsip syariah.
(2) Pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan secara produktif.
(3) Dalam hal pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf yang dimaksud pada ayat
(1) diperlukan penjamin, maka digunakan lembaga penjamin syariah.
Pasal 44
(1) Dalam mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf, Nazhir dilarang melakukan
perubahan peruntukan harta benda wakaf kecuali atas dasar izin tertulis dari Badan Wakaf
Indonesia.
(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diberikan apabila harta benda wakaf
ternyata tidak dapat dipergunakan sesuai dengan peruntukan yang dinyatakan dalam ikrar
wakaf.
Pasal 45
(1) Dalam mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf, Nazhir diberhentikan dan
diganti dengan Nazhir lain apabila Nazhir yang bersangkutan :
a. meninggal dunia bagi Nazhir perseorangan;
b. bubar atau dibubarkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku untuk Nazhir organisasi atau Nazhir badan hukum;
c. atas permintaan sendiri;
d. tidak melaksanakan tugasnya sebagai Nazhir dan/atau melanggar ketentuan larangan
dalam pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
e. dijatuhi hukuman pidana oleh pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
tetap.
(2) Pemberhentian dan penggantian Nazhir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
oleh Badan Wakaf Indonesia.
(3) Pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf yang dilakukan oleh Nazhir lain karena
pemberhentian dan penggantian Nazhir, dilakukan dengan tetap memperhatikan
peruntukan harta benda wakaf yang ditetapkan dan tujuan serta fungsi wakaf.
Pasal 46
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44, dan Pasal 45 diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
BAB VI BADAN WAKAF INDONESIA
Bagian Pertama
Kedudukan dan Tugas
Pasal 47
(1) Dalam rangka memajukan dan mengembangkan perwakafan nasional, dibentuk Badan
Wakaf Indonesia.
(2) Badan Wakaf Indonesia merupakan lembaga independen dalam melaksanakan tugasnya.
Pasal 48
Badan Wakaf Indonesia berkedudukan di ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
dapat membentuk perwakilan di Provinsi dan/ atau Kabupaten/Kota sesuai dengan kebutuhan.
Pasal 49
(1) Badan Wakaf Indonesia mempunyai tugas dan wewenang:
a. melakukan pembinaan terhadap Nazhir dalam mengelola dan mengembangkan harta
benda wakaf;
b. melakukan pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf berskala nasional dan
internasional;
c. memberikan persetujuan dan/atau izin atas perubahan peruntukan dan status harta
benda wakaf;
d. memberhentikan dan mengganti Nazhir;
e. memberikan persetujuan atas penukaran harta benda wakaf;
f. memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah dalam penyusunan kebijakan
di bidang perwakafan.
(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Badan Wakaf Indonesia
dapat bekerjasama dengan instansi Pemerintah baik Pusat maupun Daerah, organisasi
masyarakat, para ahli, badan internasional, dan pihak lain yang dipandang perlu.
Pasal 50
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49, Badan Wakaf Indonesia
memperhatikan saran dan pertimbangan Menteri dan Majelis Ulama Indonesia.

Bagian Kedua
Organisasi
Pasal 51
(1) Badan Wakaf Indonesia terdiri atas Badan Pelaksana dan Dewan Pertimbangan.
(2) Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan unsur pelaksana tugas
Badan Wakaf Indonesia.
(3) Dewan Pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan unsur pengawas
pelaksanaan tugas Badan Wakaf Indonesia.
Pasal 52
(1) Badan Pelaksana dan Dewan Pertimbangan Badan Wakaf Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 51, masing-masing dipimpin oleh 1 (satu) orang Ketua dan 2 (dua)
orang Wakil Ketua yang dipilih dari dan oleh para anggota.
(2) Susunan keanggotaan masing-masing Badan Pelaksana dan Dewan Pertimbangan Badan
Wakaf Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh para anggota.

Bagian Ketiga
Anggota
Pasal 53
Jumlah anggota Badan Wakaf Indonesia terdiri dari paling sedikit 20 (dua puluh) orang dan
paling banyak 30 (tiga puluh) orang yang berasal dari unsur masyarakat.
Pasal 54
(1) Untuk dapat diangkat menjadi anggota Badan Wakaf Indonesia, setiap calon anggota harus
memenuhi persyaratan :
a. warga negara Indonesia;
b. beragama Islam;
c. dewasa;
d. amanah;
e. mampu secara jasmani dan rohani;
f. tidak terhalang melakukan perbuatan hukum;
g. memiliki pengetahuan, kemampuan, dan/atau pengalaman di bidang perwakafan
dan/atau ekonomi, khususnya di bidang ekonomi syariah; dan
h. mempunyai komitmen yang tinggi untuk mengembangkan perwakafan nasional.
(2) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ketentuan mengenai persyaratan
lain untuk menjadi anggota Badan Wakaf Indonesia ditetapkan oleh Badan Wakaf
Indonesia.
Bagian Keempat
Pengangkatan dan Pemberhentian
Pasal 55
(1) Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
(2) Keanggotaan Perwakilan Badan Wakaf Indonesia di daerah diangkat dan diberhentikan
oleh Badan Wakaf Indonesia.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengangkatan dan pemberhentian anggota
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Badan Wakaf
Indonesia.
Pasal 56
Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia diangkat untuk masa jabatan selama 3 (tiga) tahun dan
dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.
Pasal 57
(1) Untuk pertama kali, pengangkatan keanggotaan Badan Wakaf Indonesia diusulkan kepada
Presiden oleh Menteri.
(2) Pengusulan pengangkatan keanggotaan Badan Wakaf Indonesia kepada Presiden untuk
selanjutnya dilaksanakan oleh Badan Wakaf Indonesia.
(3) Ketentuan mengenai tata cara pemilihan calon keanggotaan Badan Wakaf Indonesia
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh Badan Wakaf Indonesia, yang
pelaksanaannya terbuka untuk umum.
Pasal 58
Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia yang berhenti sebelum berakhirnya masa jabatan diatur
oleh Badan Wakaf Indonesia.
Bagian Kelima
Pembiayaan
Pasal 59
Dalam rangka pelaksanaan tugas Badan Wakaf Indonesia, Pemerintah wajib membantu biaya
operasional.
Bagian Keenam
Ketentuan Pelaksanaan
Pasal 60
Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan organisasi, tugas, fungsi, persyaratan, dan tata cara
pemilihan anggota serta susunan keanggotaan dan tata kerja Badan Wakaf Indonesia diatur
oleh Badan Wakaf Indonesia.
Bagian Ketujuh
Pertanggungjawaban
Pasal 61
(1) Pertanggungjawaban pelaksanaan tugas Badan Wakaf Indonesia dilakukan melalui laporan
tahunan yang diaudit oleh lembaga audit independen dan disampaikan kepada Menteri.
(2) Laporan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan kepada masyarakat.

BAB VII PENYELESAIAN SENGKETA
Pasal 62
(1) Penyelesaian sengketa perwakafan ditempuh melalui musyawarah untuk mencapai
mufakat.
(2) Apabila penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berhasil,
sengketa dapat diselesaikan melalui mediasi, arbitrase, atau pengadilan.
BAB VIII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 63
(1) Menteri melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan wakaf untuk
mewujudkan tujuan dan fungsi wakaf.
(2) Khusus mengenai pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri
mengikutsertakan Badan Wakaf Indonesia.
(3) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan
dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Majelis Ulama Indonesia.
Pasal 64
Dalam rangka pembinaan, Menteri dan Badan Wakaf Indonesia dapat melakukan kerja sama
dengan organisasi masyarakat, para ahli, badan internasional, dan pihak lain yang dipandang
perlu.
Pasal 65
Dalam pelaksanaan pengawasan, Menteri dapat menggunakan akuntan publik.
Pasal 66
Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk pembinaan dan pengawasan oleh Menteri dan Badan
Wakaf Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63, Pasal 64, dan Pasal 65 diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB IX KETENTUAN PIDANA DAN SANKSI ADMINISTRATIF
Bagian Pertama
Ketentuan Pidana
Pasal 67
(1) Setiap orang yang dengan sengaja menjaminkan, menghibahkan, menjual, mewariskan,
mengalihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya harta benda wakaf yang telah
diwakafkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 atau tanpa izin menukar harta benda
wakaf yang telah diwakafkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(2) Setiap orang yang dengan sengaja mengubah peruntukan harta benda wakaf tanpa izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4
(empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta
rupiah).
(3) Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan atau mengambil fasilitas atas hasil
pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf melebihi jumlah yang ditentukan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3
(tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah).
Bagian Kedua
Sanksi Administratif
Pasal 68
(1) Menteri dapat mengenakan sanksi administratif atas pelanggaran tidak didaftarkannya
harta benda wakaf oleh lembaga keuangan syariah dan PPAIW sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 30 dan Pasal 32.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara atau pencabutan izin kegiatan di bidang wakaf bagi lembaga
keuangan syariah;
c. penghentian sementara dari jabatan atau penghentian dari jabatan PPAIW.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB X KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 69
(1) Dengan berlakunya Undang-Undang ini, wakaf yang dilakukan berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum diundangkannya Undang-Undang
ini, dinyatakan sah sebagai wakaf menurut Undang-Undang ini.
(2) Wakaf sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib didaftarkan dan diumumkan paling
lama 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.
Pasal 70
Semua peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai perwakafan masih tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan dan/atau belum diganti dengan peraturan yang baru
berdasarkan Undang-Undang ini.





BAB XI KETENTUAN PENUTUP
Pasal 71
(1) Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
(2) Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta pada tanggal 27 Oktober 2004 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 27 Oktober 2004
MENTERI SEKRETARIS NEGARA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 159
17
UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf
2. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik
BAB 1
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Yang dimaksud dalam Peraturan Pemerintah ini dengan:
(1) Wakaf adalah Perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari harta kekayaannya yang berupa tanah milik dan melembagakannya untuk selama lamanya untuk kepentingan peribadatan atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama Islam.
(2) Wakif adalah orang atau orang-orang ataupun badan hukum yang mewakafkan tanah miliknya.
(3) Ikrar adalah pernyataan kehendak dari wakif untuk mewakafkan tanah miliknya.
(4) Nadzir adalah kelompok orang atau badan hukum yang diserahi tugas pemeliharaan dan pengurusan benda wakaf.
BAB II
FUNGSI WAKAF
Bagian Pertama
Pasal 2
Fungsi wakaf adalah mengekalkan manfaat benda wakaf sesuai dengan tujuan wakaf.

Bagian Kedua
Unsur-unsur dan syarat-syarat wakaf
Pasal 3
(1) Badan-badan hukum Indonesia dan orang atau orang-orang yang telah dewasa dan sehat akalnya serta yang oleh hukum tidak terhalang untuk melakukan perbuatan hukum, atas kehendak sendiri dan tanpa paksaan dari pihak lain, dapat mewakafkan tanah miliknya dengan memperhatikan peraturan-peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Dalam hal badan-badan hukum, maka yang bertindak atas namanya adalah pengurusnya yang sah menurut hukum.
Pasal 4
Tanah sebagaimana dimaksud dalam pasal 3, harus merupakan tanah hak milik atau tanah milik yang bebas dari segala pembebanan, ikatan, sitaan, dan perkara.
Pasal 5
(1) Pihak yang mewakafkan tanahnya harus mengikrarkan kehendaknya secara jelas dan tegas kepada Nadzir di hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf sebagaimana dimaksud pasal 9 ayat (2) yang kemudian menuangkannya dalam bentuk Akta Ikrar Wakaf, dengan disaksikan oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) orang saksi.
(2) Dalam keadaan tertentu, penyimpangan dari ketentuan dimaksud dalam ayat (1) dapat dilaksanakan setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan Menteri Agama.
Pasal 6
(1) Nadzir sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) pasal 1 yang terdiri dari perorangan harus memenuhi syarat-syarat berikut: a. warganegara Republik Indonesia; b. beragama Islam; c. sudah dewasa; d. sehat jasmaniah dan rohaniah; e. tidak berada di bawah pengampuan. f. bertempat tinggal di Kecamatan tempat letaknya tanah yang diwakafkan.
(2) Jika berbentuk badan hukum, maka Nadzir harus memenuhi persyaratan berikut: a. badan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. b. mempunyai perwakilan di kecamatan tempat letaknya tanah yang diwakafkan.
(3) Nadzir dimaksud dalam ayat (1) dan (2) harus didaftar pada Kantor Urusan Agama Kecamatan setempat untuk mendapatkan pengesahan.
(4) Jumlah Nadzir yang diperbolehkan untuk sesuatu daerah seperti dimaksud dalam ayat (3), ditetapkan oleh Menteri Agama berdasarkan kebutuhan.
Bagian Ketiga
Kewajiban dan Hak-hak Nadzir
Pasal 7
(1) Nadzir berkewajiban untuk mengurus dan mengawasi kekayaan wakaf serta hasilnya menurut ketentuan-ketentuan yang diatur lebih lanjut oleh Menteri Agama sesuai dengan tujuan wakaf. (2) Nadzir diwajibkan membuat laporan secara berkala atas semua hal yang menyangkut kekayaan wakaf sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (3) Tatacara pembuatan laporan seperti dimaksud dalam ayat (2), diatur lebih lanjut oleh Menteri Agama.
Pasal 8
Nadzir berhak mendapatkan penghasilan dan fasilitas yang besarnya dan macamnya ditentukan lebih lanjut oleh Menteri Agama.
BAB III
TATACARA MEWAKAFKAN DAN PENDAFTARANNYA
Bagian Pertama
Tatacara perwakafan tanah milik
Pasal 9
(1) Pihak yang hendak mewakafkan tanahnya diharuskan datang di hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf untuk melaksanakan Ikrar Wakaf.
(2) Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf seperti dimaksud dalam ayat (1) diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Agama.
(3) lsi dan bentuk Ikrar Wakaf ditetapkan oleh Menteri Agama.
(4) Pelaksanaan Ikrar, demikian pula pembuatan Akta Ikrar Wakaf, dianggap sah, jika dihadiri dan disaksikan oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) orang saksi.
(5) Dalam melaksanakan ikrar seperti dimaksud ayat (1) pihak yang mewakafkan tanah diharuskan membawa serta dan menyerahkan kepada Pejabat tersebut dalam ayat (2) surat surat berikut:
a. sertifikat hak milik atau tanda bukti pemilikan tanah lainnya;
b. surat keterangan dari Kepala Desa yang diperkuat oleh Kepala Kecamatan setempat yang menerangkan kebenaran pemilikan tanah dan tidak tersangkut sesuatu sengketa;
c. surat keterangan Pendaftaran tanah;
d. izin dari Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah, Kepala Sub Direktorat Agraria Setempat
Bagian Kedua
Pendaftaran wakaf tanah milik
Pasal 10
(1) Setelah kata Ikrar Wakaf dilaksanakan sesuai dengan ketentuan ayat (4) dan (5) pasal 9, maka Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf atas nama Nadzir yang bersangkutan, diharuskan mengajukan permohonan kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah cq. Kepala Sub Direktorat Agraria setempat untuk mendaftar perwakafan tanah milik yang bersangkutan menurut ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961.
(2) Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah cq. Kepala Sub Direktorat Agraria setempat, setelah menerima permohonan tersebut dalam ayat (1) mencatat perwakafan tanah milik yang bersangkutan pada buku tanah dan sertifikatnya.
(3) Jika tanah milik yang diwakafkan belum mempunyai sertifikat maka pencatatan yang dimaksud dalam ayat (2) dilakukan setelah untuk tanah tersebut dibuatkan sertifikatnya.
(4) Oleh Menteri Dalam Negeri diatur tatacara pencatatan perwakafan yang dimaksud dalam ayat (2) dan (3).
(5) Setelah dilakukan pencatatan perwakafan tanah milik dalam buku tanah dan sertifikatnya seperti dimaksud ayat -(2) dan (3), maka Nadzir yang bersangkutan wajib melaporkannya kepada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Agama.
BAB IV
PERUBAHAN, PENYELESAIAN PERSELISIHAN DAN PENGAWASAN
PERWAKAFAN TANAH MILIK
Bagian Pertama
Perubahan perwakafan tanah milik
Pasal 11
(1) Pada dasarnya terhadap tanah milik yang telah diwakafkan tidak dapat dilakukan perubahan peruntukan atau penggunaan lain daripada yang dimaksud dalam Ikrar Wakaf.
(2) Penyimpangan dari ketentuan tersebut dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan terhadap hal-hal tertentu setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan tertulis dari Menteri Agama, yakni: a. karena tidak sesuai lagi dengan tujuan wakaf seperti diikrarkan oleh wakif.
b. karena kepentingan umum.
(3) Perubahan status tanah milik yang telah diwakafkan dan perubahan penggunaannya sebagai akibat ketentuan tersebut dalam ayat (2) harus dilaporkan oleh Nadzir kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah, Kepala Sub Direktorat Agraria setempat untuk mendapatkan penyelesaian lebih lanjut.
Bagian kedua
Penyelesaian Perselisihan Perwakafan
Tanah Milik
Pasal 12
Penyelesaian perselisihan sepanjang yang menyangkut persoalan perwakafan tanah, disalurkan melalui Pengadilan Agama setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Bagian Ketiga
Pengawasan Perwakafan Tanah Milik
Pasal 13
Pengawasan perwakafan tanah milik dan tatacaranya di berbagai tingkat wilayah ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri Agama.
BAB V
KETENTUAN PIDANA
Pasal 14
Barangsiapa melakukan perbuatan yang melanggar ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud pasal 5, pasal 6 ayat (3), pasal 7 ayat (1) dan ayat (2), pasal 9, pasal 10 dan pasal 11, dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah).

Pasal 15

Apabila perbuatan yang dimaksud dalam pasal 14 dilakukan oleh atau atas nama badan hukum maka tuntutan pidana dilakukan dan pidana serta tindakan tata tertib dijatuhkan, baik terhadap badan hukum maupun terhadap mereka yang memberi perintah melakukan perbuatan tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin atau penanggung jawab dalam perbuatan atau kelalaian itu atau terhadap kedua-duanya.
BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 16
(1) Perwakafan tanah milik demikian pula pengurusannya yang terjadi sebelum dikeluarkannya Peraturan Pemerintah ini, oleh Nadzir yang bersangkutan harus didaftarkan kepada Kantor Urusan Agama Kecamatan setempat, untuk disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.
(2) Cara-cara dan pelaksanaan ketentuan tersebut dalam ayat (1) ditentukan lebih lanjut oleh Menteri Agama.
Pasal 17
(1) Peraturan dan atau ketentuan-ketentuan tentang perwakafan tanah milik sebagaimana tercantum dalam Bijblad-Bijblad Nomor 6196 Tahun 1905, Nomor 12573 Tahun 1931, Nomor 13390 Tahun 1934, dan Nomor 13480 Tahun 1935 beserta ketentuan pelaksanaannya sepanjang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini dinyatakan tidak berlaku lagi.
(2) Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Pemerintah ini diatur lebih lanjut oleh Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri sesuai dengan bidangnya masing-masing.
BAB VII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 18
Peraturan Pemerintah ini mulai berlalu pada tanggal diundangkan. Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.


Diundangkan di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1977 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA, SUDHARMONO, SH.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1977 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SOEHART







3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 1977 tentang Tata Cara Pendaftaran Tanah Mengenai Perwakafan Tanah Milik


BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Tanah yang diwakafkan harus merupakan Tanah Hak Milik atau tanah milik yang baik
seluruhnya maupun sebagian harus bebas dari beban ikatan, jaminan, sitaan dan sengketa,
sebagaimana dimaksud dalam ketentuan pasal 4 Peraturan Pemerintah No. 28/1977.
Pasal 2
Dengan menyimpang seperlunya dari ketentuan pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 10 tahun
1961, maka:
a. Yang bertindak sebagai Pejabat Pembuat Akte lkrar Wakaf, selanjutnya disingkat dengan
PPAIW, ialah pejabat yang diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Agama, sesuai dengan ketentuan pasal 9 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1977.
b. Bentuk akte ikrar wakaf ditentukan oleh Menteri Agama, sesuai dengan ketentuan pasal 9
ayat (3) Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1977.
c. Biaya-biaya yang berkenaan dengan pembuatan akte ikrar wakaf dan untuk para saksi
ditetapkan oleh Menteri Agama.
BAB II. PENDAFTARAN DAN PENCATATAN PERWAKAFAN TANAH HAK MILIK
Pasal 3
(1) Semua tanah yang diwakafkan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 di atas harus
didaftarkan kepada Kantor Sub Direktorat Agraria Kabupaten/Kotamadya setempat.
(2) PPAIW berkewajiban untuk mengajukan permohonan pendaftaran kepada Kantor Sub
Direktorat Agraria Kabupaten/Kotamadya setempat atas tanah-tanah yang telah dibuatkan
akte ikrar wakaf.
(3) Permohonan pendaftaran perwakafan tanah hak milik terseb.ut pada ayat (1) pasal ini
harus disampaikan selambat-lambatnya dalam jangka waktu 3 bulan sejak dibuatnya akta
ikrar wakaf.
Pasal 4
Permohonan pendaftaran perwakafan tanah-tanah milik yang belum terdaftar di kantor Sub
Direktorat Agraria Kabupaten/Kotamadya atau belum ada sertifikatnya, dilakukan bersama
sama dengan permohonan pendaftaran haknya kepada Kantor Sub Direktorat Agrana
Kabupaten/Kotamadya setempat menurut ketentuan Peraturan pemerintah No. 10 tahun 1961.
Pasal 5
(1) Jika suatu bidang tanah akan diwakafkan sebagian, maka oleh calon wakif terhadap
bidang tanah tersebut harus dilakukan pemisahan terlebih dahulu atas bagian-bagian yang
tidak diwakafkan dan bagian yang akan diwakafkan.
(2) Masing-masing bagian bidang tanah tersebut pada ayat (1) pasal ini dibuatkan Buku
Tanah dan Sertifikatnya tetap atas nama calon wakif.
Pasal 6
(1) Untuk keperluan pendaftaran perwakafan tanah-tanah hak milik, maka kepada Kantor Sub
Direktorat Agraria Kabupaten/Kotamadya setempat, harus diserahkan:
a. Sertifikat tanah yang bersangkutan.
b. Akta Ikrar Wakaf Yang dibuat oleh PPAIW setempat.
c. Surat pengesyahan dari Kantor Urusan Agama Kecamatan setempat mengenai
Nadzir yang bersangkutan.
(2) Dalam hal bidang tanah milik yang diwakafkan tersebut belum terdaftar atau belum ada
sertifikatnya, maka kepada Kantor Sub Direktorat Agraria Kabupaten/Kotamadya setempat
harus diserahkan:
a. Surat permohonan konversi/penegasan haknya.
b. Surat-surat bukti pemilikan tanahnya serta surat-surat keterangan lainnya yang
diperlukan sehubungan dengan permohonan konversi dan pendaftaran haknya.
c. Akta lkrar Wakaf Yang dibuat oleh PPAIW setempat.
d. Surat pengesyahan dari Kantor Urusan Agama Kecamatan setempat mengenai
Nadzir yang bersangkutan.
Pasal 7
(1) Setelah menerima permohonan pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 3, Kepala
Sub Direktorat Agraria Kabupaten/Kotamadya setempat mencatat perwakafan tanah milik yang
bersangkutan pada buku tanah dan sertifikatnya.
(2) Jika tanah milik yang diwakafkan tersebut belum terdaftar di Kantor Sub Direktorat Agraria Kabupaten/Kotamadya atau belum mempunyai sertifikat, maka pendaftaran yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini dilakukan setelah tanah tersebut dibuatkan sertifikatnya.
Pasal 8
(1) Berdasarkan Akte lkrar Wakaf Yang dibuat oleh PPAIW, oleh Kepala Sub Direktorat
Agraria Kabupaten/Kotamadya setempat dilakukan:
a. Pencoretan nama/nama-nama pemegang hak yang lama yaitu Wakif.
b. Mencantumkan kata-kata "WAKAF" dengan huruf besar di belakang nomor hak milik
tanah yang bersangkutan pada Buku Tanah dan Sertifikatnya.
c. Mencantumkan kata-kata:
Diwakafkan untuk; …… berdasarkan Akte ikrar Wakaf PPAIW Kecamatan……
tanggal…….. Nomor……, pada halaman tiga kolom "sebab perubahan" dalam BukuTanah dan Sertifikatnya.
d. Mencantumkan nama/nama-nama Nadzir pada halaman tiga kolom Nama yang
berhak dan pemegang hak lainnya "dalam Buku Tanah" dan sertifikatnya.
(2) Pengisian kolom-kolom lainnya halaman tiga dalam Buku Tanah dan sertifikat dilakukan
sesuai derigan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

Pasal 9
(1) Jika Nadzir terdiri dari kelompok orang, maka yang ditulis dalam Buku Tanah dan
Sertifikatnya adalah nama-nama orang dari kelompok tersebut disertai kedudukannya di
dalam kepengurusan itu.
(2) Jika Nadzir merupakan badan hukum, maka yang ditulis dalam Buku Tanah dan
Sertifikatnya adalah nama badan hukum tersebut.
(3) Syarat-syarat sebagai Nadzir, baik kelompok orang atau pun badan hukum harus
memenuhi ketentuan pasal 6 Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1977.
Pasal 10
(1) Dalam hal Nadzir terdiri dari kelompok orang-orang, ada di antaranya yang mengundurkan
diri atau meninggal dunia, harus dilakukan pencoretan nama./nama-nama Nadzir yang
mengundurkan atau meninggal dunia tersebut.
Pencatatan penggantian nama/nama-nama Nadzir yang baru pada Buku Tanah dan
Sertifikat dilakukan setelah ada Surat pengesyahan dari Kantor Urusan Agama Kecamatan
setempat, tentang penggantian Nadzir tersebut.
(2) Penggantian nama/nama-nama Nadzir tersebut pada ayat (1) pasal ini tidak
mengakibatkan peralihan hak dari tanah yang bersangkutan.
BAB III. BIAYA PENDAFTARAN DAN PENCATATAN DALAM SERTIFIKAT
Pasal 11
Tentang biaya-biaya yang berkenaan dengan pendaftaran hak untuk pertama kali yang
dimaksud dalam pasal 4 serta biaya-biaya untuk pembuatan sertifikat pemisahan yang
dimaksud dalam pasal 5, kini diatur dengan Per. Mendagri No. 2/1978 dan No, 12/1978.
Pasal 12
Untuk keperluan pendaftaran dan pencatatan perwakafan tanah sebagaimana dimaksud dalam
pasal 3, 7, 8, 9 dan 10 tidak dikenakan biaya pendaftaran, kecuali biaya pengukuran dan
meterai.
BAB IV. KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 13
Pendaftaran tanah-tanah wakaf yang sudah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah
No. 28/1977 dilakukan menurut ketentuan di dalam Peraturan ini, setelah diadakan peraturan
penyesuaian oleh Menteri Agama.
BAB V
Pasal 14
Peraturan Menteri Dalam Negeri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 November 1977.

3. Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1998 tentang Peraturan Pelaksanaan PP Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan  Tanah Milik
BAB I. KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Yang dimaksud dalam peraturan ini dengan:
a. Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1977 tentang
Perwakafan Tanah Milik;
b. Wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan
sebagian dari harta kekayaannya berupa tanah milik dan melembagakannya untuk
selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau keperluan umum lainnya sesuai
dengan ajaran agama Islam;
c. Wakif adalah orang atau orang-orang atau badan hukum yang mewakafkan tanah
miliknya;
d. Ikrar adalah pernyataan kehendak dari wakif untuk mewakafkan tanah miliknya;
e. Nadzir adalah kelompok orang atau badan hukum yang diserahi tugas pemeliharaan
dan pengurusan benda wakaf;
f. Akta Ikrar Wakaf adalah akta ikrar wakaf dari wakif yang dibuat oleh Pejabat Pembuat
Akta Ikrar Wakaf;
g. Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf adalah akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akra
lkrar Wakaf atas tanah wakaf yang perwakafannya terjadi sebelum berlakunya
Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1977;
h. Kanwil Depag adalah Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi atau yang
setingkat;
i. Kepala Bidang adalah Kepala Bidang Urusan Agama Islam pada Kantor wilayah
Departemen Agama Propinsi atau yang setingkat;
j. Kandepag adalah Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kotamadya;
k. Kepala Seksi adalah Kepala Seksi Urusan Agama Islam pada Kantor Departemen
Agama Kabupaten/Kotamadya;
l. KUA adalah Kantor Urusan Agama Kecamatan;
m. Pengadilan Agama adalah Pengadilan Agarna di Jawa - Madura, Kerapatan Qadi di
Kalimantan Selatan dan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar'iyah diluar Jawa Madura;
n. Kepala Desa adalah kepala desa, kepala kampung, kepala nagari, atau setingkat
dengan itu yang berhak rnengeluarkan surat keterangan.
BAB II. IKRAR WAKAF DAN AKTANYA
Pasal 2
(1) Ikrar wakaf dilakukan secara tertulis.
(2) Dalam hal Wakif tidak dapat rnenghadap Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf maka wakif
dapat membuat ikrar secara tertulis dengan persetujuan dari Kandepag yang mewilayahi
tanah wakaf.
Pasal 3
(1) Sesaat setelah pelaksanaan ikrar wakaf, Pejabat Pembuat Akta lkrar Wakaf membuat Akta
lkrar Wakaf dan salinannya.
(2) Akta lkrar Wakaf dibuat rangkap tiga:
Lembar pertama disimpan oleh Pejabat Pembuat Akta lkrar Wakaf.
Lembar kedua dilampirkan pada surat permohonan pendaftaran kepada Bupati/
Walikotarnadya Kepala Daerah cq. Kepala Subdit Agraria setempat dan lembar ketiga
dikirim ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tanah wakaf tersebut.
(3) Salinan Akta lkrar Wakaf dibuat rangkap empat:
Salinan lembar pertama disampaikan kepada wakif;
Salinan lembar kedua disampaikan kepada nadzir;
Salinan lembar ketiga dikirim kepada Kandepag;
Salinan lembar keempat dikirim kepada Kepala Desa yang mewilayahi tanah wakaf
tersebut.
Pasal 4
Saksi ikrar wakaf harus telah dewasa dan sehat akalnya serta yang oleh hukum tidak
berhalangan untuk melakukan perbuatan hukum.
BAB III PEJABAT PEMBUAT AKTA IKRAR WAKAF
Pasal 5
(1) Kepala KUA ditunjuk sebagai Pejabat Pembuat Akta lkrar Wakaf.
(2)Administrasi perwakafan diselenggarakan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan.
(3)Dalam hal suatu kecamatan tidak ads Kantor Urusan Agamanya, maka Kepala Kanwil
Depag menunjuk Kepala KUA terdekat sebagai Pejabat Pembuat Akta lkrar Wakaf di
kecarnatan tersebut.
Pasal 6
Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf wajib menyelenggarakan Daftar Akta Ikrar Wakaf.
Pasal 7
Tugas Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf ialah:
a. Meneliti kehendak wakif;
b. Meneliti dan mengesahkan nadzir atau anggota nadzir yang baru sebagai diatur dalam
pasal 10 ayat (3) dan (4) peraturan ini;
c. Meneliti saksi ikrar wakaf;
d. Menyaksikan pelaksanaan ikrar wakaf;
e. Membuat Akta lkrar Wakaf;
f. Menyampaikan Akta lkrar Wakaf dan salinannya sebagai diatur dalam pasal 3 ayat (2)
dan (3) peraturan ini selambat-lambatnya dalam waktu satu butan sejak dibuatnya;
g. Menyelenggarakan Daftar Akta lkrar Wakaf;
h. Menyimpan dan memelihara Akta dan Daftarnya;
i. Mengurus pendaftaran perwakafan seperti tercantum dalam pasal 10 ayat (1) Peraturan
Pemerintah.
BAB IV NADZIR, KEWAJIBAN DAN HAKNYA
Pasal 8
(1) Nadzir yang terdiri daii perorangan harus merupakan suatu kelompok yang terdiri dari
sekurang-kurangnya tiga orang dan salah seorang di antaranya sebagai ketua.
(2) Seorang anggota nadzir berhenti dari jabatannya apabila:
a. Meninggal dunia;
b. Mengundurkan diri;
c. Dibatalkan kedudukannya sebagai nadzir oleh Kepala KUA karena:
1. tidak memenuhi syarat seperti diatur dalam pasal 6 ayat (1) Peraturan
Pemerintah;
2. melakukan tindak pidana kejahatan yang berhubungan dengan jabatannya
sebagai nadzir;
3. tidak dapat melakukan kewajibannya lagi sebagai nadzir.
Pasal 9
(1) Jumlah nadzir perorangan dalam satu kecamatan ditetapkan sebanyak-banyaknya
sejumlah desa yang terdapat di kecamatan tersebut.
(2) Jumlah nadzir perorangan dalam satu desa ditetapkan satu nadzir.
(3) Jika nadzir berbentuk badan hukum sebagai diatur pasal 6 ayat (2) Peraturan Pemerintah
jumlah nadzir ditentukan sebanyak badan hukum yang ada di keeamatan tersebut.
Pasal 10
(1) Nadzir berkewajiban mengurus dan mengawasi harta kekayaan wakaf dan hasilnya
metiputi:
a. Menyimpan lembar kedua salinan Akta Ikrar Wakaf;
b. Memelihara tanah wakaf;
c. Memanfaatkan tanah wakaf;
d. Memanfaatkan dan berusaha meningkatkan hasil wakaf;
e. Menyelenggarakan pembukuan/administrasi yang meliputi:
1. buku catatan tentang keadaan tanah wakaf;
2. buku catatan tentang pengelolaan dan hasil tanah wakaf;
3. buku Catalan tentang penggunaan hasil tanah wakaf.
(2) Nadzir berkewajiban melaporkan:
a. Hasil pencatatan perwakafan tanah mihk dalam buku tanah dan sertifikatnya kepada
Kepala KUA;
b. Perubahan status tanah milik yang telah diwakafkan dan perubahan penggunaannya
akibat ketentuan pasal 12 dan 13 peraturan ini sebagai diatur dalam pasal I 1 ayat (3)
Peraturan Pemerintah;
c. Pelaksanaan kewajiban yang tersebut dalam ayat (1) pasal ini kepada Kepala KUA tiap
satu tahun sekali yaitu pada tiap akhir bulan Desember.
(3) Nadzir berkewajiban pula untuk melaporkan adanya salah seorang anggota nadzir yang
berhenti dari jabatannya sebagai diatur dalam pasal 8 ayat (2) Peraturan ini.
(4) Bilamana jumlah anggota nadzir kelompok karena berhentinya salah seorang anggota
atau lebih berakibat tidak memenuhi syarat sebagai diatur dalam pasal 8 ayat (1)
peraturan ini, anggota nadzir lainnja berkewajiban mengusulkan penggantinya untuk
disahkan oleh Pejabat Pembuat Akta lkrar Wakaf.
Pasal 11
(1) Nadzir berhak menerima penghasilan dari hasil tanah wakaf yang besarnya ditetapkan oleh
Kepala Kandepag, Kepala Seksi dengan ketentuan tidak melebihi sepuluh persen dari
hasil bersih tanah wakaf.
(2) Nadzir dalam menunaikan tugasnya berhak menggunakan fasilitas sepanjang diperiukan
dari tanah wakaf atau hasilnya yang jenis dan jumlahnya ditetapkan oleh Kepala
Kandepag , Kepala Seksi.
BAB V PERUBAHAN PERWAKAFAN TANAH MILIK
Pasal 12
(1) Untuk merubah status dan penggunaan tanah wakaf, nadzir berkewajiban mengajukan
permohonan kepada Kepala Kanwil Depag cq. Kepala Bidang melalui Kepala KUA dan
Kepala Kandepag secara hirarkis dengan menyebutkan alasannya.
(2) Kepala KUA dan Kepala Kandepag meneruskan permohonan tersebut pada ayat (1)
secara hirarkis kepada Kepala Kanwil Depag cq. Kepala Bidang dengan disertai
pertimbangan.
(3) Kepala Kanwil Depag cq. Kepala Bidang diberi wewenang untuk memberi persetujuan
atau penolakan secara tertulis atas permohonan perubahan penggunaan tanah wakaf.
Pasal 13
(1) Dalam hal ada permohonan perubahan status tanah wakaf Kepala Kanwil Depag
berkewajiban meneruskan kepada Menteri Agama cq. Direktur Jenderal Bimbingan
Masyarakat Islam dengan disertai pertimbangan.
(2) Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam diberi wewenang untuk memberi
persetujuan atau penolakan secara tertulis atas pennohonan perubahari status tanah
wakaf.
(3) Perubahan status tanah wakaf dapat diizinkan apabila diberikan penggantian yang
sekurang-kurangnya senilai dan seimbang dengan kegunaannya sesuai dengan ikrar
wakaf.



BAB VI PENGAWASAN DAN BIMBINGAN
Pasal 14
Pengawasan dan bimbingan perwakafan tanah dilakukan oleh unit-unit organisasi Departemen Agama secara hirarkis sebagai diatur dalam Keputusan Menteri Agama tentang susunan organisasi dan tata kerja Departemen Agama.
BAB VII TATA CARA PENDAFTARAN WAKAF YANG TERJADI SEBELUM PP NO. 28 TAHUN 1977
Pasal 15
(1) Tanah wakaf yang sudah terjadi sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah
pendaftarannya dilakukan oleh nadzir yang bersangkutan kepada KUA setempat.
(2) Apabila nadzir yang bersangkutan sudah tidak ada lagi maka wakif atau ahli warisnya,
anak keturunan nadzir atau anggota masyarakat yang mengetahuinya mendaftarkan
kepada KUA setempat.
(3) Apabila ada tanah wakaf dan tidak ada orang yang man mendaftarkannya maka kepala
desa berkewajiban mendaftarkannya kepada KUA setempat.
(4) Pendaftaran dimaksud pada ayat (1), (2) dan (3) pasal ini disertai:
a. Surat keterangan tentang tanah atau surat keterangan kepala desa tentang
perwakafan tanah tersebut;
b. Dua orang saksi ikrar wakaf atau dua orang saksi istifadhah (orang yang mengetahui
atau mendengar tentang perwakafan tersebut).
Pasal 16
(1) Untuk mernbuktikan pendaftaran tanah wakaf sebagai dirnaksud dalam pasal 15
peraturan ini ditetapkan Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf.
(2) Dalam melaksanakan ketentuan ayat (1) pasal ini Kepala KUA selaku Pejabat Pembuat
Akta lkrar Wakaf berkewajiban untuk:
a. Meneliti keadaan tanah wakaf;
b. Meneliti dan mengesahkan nadzir serta meneliti saksi;
c. Menerima penyaksian tanah wakaf;
d. Membuat Akta Pengganti Akta lkrar Wakaf dan salinannya;
e. Menyampaikan Akta Pengganti Akta lkrar Wakaf dan salinannya sebagai diatur dalam
pasal 3 ayat (2) dan (3) peraturan ini;
f. Memasukkan Akta Pengganti Akta lkrar Wakaf dalam Daftar Akta Pengganti Akta lkrar
Wakaf;
g. Menyimpan dan memelihara Akta dan Daftarnya;
h. Mengurus pendaftaran perwakafan seperti tercantum dalam pasal 10 ayat (1)
Peraturan Pemerintah.


BAB VIII PENYELESAIAN PERSELISIHAN PERWAKAFAN
Pasal 17
(1) Pengadilan Agama yang mewilayahi tanah wakaf berkewajiban menerima dan
menyelesaikan perkara tentang perwakafan tanah menurut syari'at Islam yang antara lain
mengenai:
a. Wakaf, wakif, nadzir, ikrar dan saksi;
b. Bayyinah (alat bukti admirlistrasi tanah wakaf);
c. Pengelolaan dan pemanfaatan hasil wakaf.
(2) Pengadilan Agama dalam melaksanakan ketentuan ayat (1) pasal ini berpedoman pada
tata cara penyelesaian perkara pada Pengadilan Agama.
BAB IX BIAYA
Pasal 18
Penyelesaian administrasi perwakafan tanah milik yang diatur dalam peraturan ini dibebaskan
dari biaya kecuali bea meterai.
BAB X KETENTUAN PENUTUP
Pasal 19
Hal-hal yang memerlukan peraturan pelaksanaan dari peraturan ini ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Birnbingan Masyarakat Islam.
Pasal 20
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 Januari 1978.

sekian informasi tentang wakaf mengenai Dasar Hukum dan UU Wakaf Di Indonesia dari blog apanesi semoga dapat bermanfaat.

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda